psikologi fomo dalam traveling

mengapa kita merasa harus mengunjungi tempat yang viral

psikologi fomo dalam traveling
I

Pernahkah kita berdiri mengantre dua jam di bawah terik matahari, hanya demi berfoto lima detik di ayunan berlatar sawah yang sedang viral? Saya pernah. Kita mungkin diam-diam mengutuk keputusan itu sambil menyeka keringat. Tapi entah kenapa, kita mengulanginya lagi di liburan berikutnya. Liburan yang seharusnya menjadi momen melepas penat, kini sering kali terasa seperti jadwal syuting yang ketat dan melelahkan. Kita rela bangun subuh bukan untuk menikmati fajar, tapi agar tidak bocor latar belakang fotonya oleh turis lain. Kenapa kita merasa punya semacam kewajiban moral untuk mengunjungi tempat yang sedang trending di media sosial? Mengapa muncul perasaan bahwa jika kita tidak ke sana, liburan kita seolah tidak sah?

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat lintasan sejarah. Ratusan tahun lalu, leluhur kita melakukan perjalanan bukan untuk mencari hidden gem, melainkan untuk mencari makanan atau menghindari cuaca ekstrem. Berpindah tempat murni perkara bertahan hidup. Lalu, pada abad ke-17 hingga ke-19, muncul tradisi Grand Tour di Eropa. Ini adalah perjalanan panjang para bangsawan muda untuk belajar seni dan budaya. Pada masa itu, traveling adalah simbol status sosial tingkat tinggi. Nah, melompat ke masa sekarang, tiket pesawat makin terjangkau dan akses jalan makin mudah. Siapa saja bisa traveling. Tapi tahukah teman-teman, kebutuhan evolusioner kita untuk menunjukkan status ternyata tidak pernah hilang. Kebutuhan itu hanya berganti bentuk. Dari rombongan kereta kuda yang eksklusif, menjadi sekumpulan stempel digital di Instagram atau TikTok. Kita tidak lagi pamer seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa up-to-date kita dengan tren dunia. Kita menggunakan perjalanan sebagai alat komunikasi sosial.

III

Di sinilah otak kita mulai bermain trik. Saat kita rebahan di kasur dan melihat video pendek tentang kafe tersembunyi dengan pemandangan tebing yang dramatis, otak kita melepaskan dopamin. Ini adalah hormon antisipasi dan penggerak. Otak kita berbisik lembut, "Kita harus ke sana supaya kita diakui sebagai bagian dari kelompok yang keren." Fenomena yang akrab kita sebut Fear of Missing Out atau FOMO ini, sebenarnya berakar pada ketakutan purba. Di zaman batu, tertinggal dari kelompok atau tidak tahu informasi terbaru berarti mati dimakan predator. Jadi, kecemasan yang kita rasakan saat melihat teman-teman asyik liburan di tempat viral adalah respons amigdala—pusat rasa takut di otak—yang membunyikan alarm bahaya. Tertinggal tren dianggap sebagai ancaman eksistensial. Tapi, ini menyisakan satu pertanyaan besar. Pernahkah teman-teman akhirnya sampai di tempat viral tersebut, lalu tiba-tiba merasa... kosong? Pemandangannya persis seperti di layar ponsel, tapi entah kenapa magisnya hilang begitu saja. Mengapa rasa puas itu enggan datang padahal kita sudah di titik tujuan?

IV

Rahasianya ada pada cara kerja sistem penghargaan otak kita, yang dalam neurosains dikenal sebagai Reward Prediction Error. Otak kita pada dasarnya adalah mesin peramal masa depan. Saat kita terus-menerus menonton video viral, ekspektasi kita melambung terlalu tinggi. Tanpa kita sadari, dopamin kita sudah terpakai habis saat kita mengantisipasi liburan tersebut, bukan saat kita benar-benar berada di sana. Ketika realitas di lapangan ternyata hanya "biasa saja"—ditambah antrean panjang, harga makanan yang mencekik, dan cuaca panas—otak kita mencatat defisit dopamin. Kita merasa tertipu oleh ekspektasi sendiri. Lebih ironis lagi, dalam banyak kasus, kita sebenarnya tidak sedang menikmati tempat itu. Kita sekadar sedang meredakan kecemasan sosial. Kita pergi ke sana bukan untuk memperluas cakrawala, melainkan untuk membayar "utang eksistensi" agar aman dari penilaian algoritma. Kita mengubah dunia yang luas dan penuh kejutan ini menjadi sekadar daftar checklist yang harus cepat-cepat dicoret.

V

Menyadari fakta psikologis ini mungkin membuat kita merasa sedikit konyol. Saya pun tersenyum getir ketika menyadarinya. Tapi, tolong jangan terlalu keras pada diri sendiri. Otak manusia memang belum menerima pembaruan sistem operasi untuk menghadapi gempuran teknologi dan media sosial masa kini. Wajar jika kita sering terpeleset jatuh ke dalam lubang FOMO. Lalu, apa yang bisa kita lakukan ke depannya? Jawabannya mungkin ada pada pergeseran pola pikir secara perlahan menuju JOMO, atau Joy of Missing Out. Ini adalah seni menikmati momen kita sendiri, tanpa peduli apa yang sedang dikerjakan orang lain di belahan bumi sana. Di liburan kita berikutnya, mari kita coba untuk nyasar secara sengaja. Matikan peta digital sejenak. Masuklah ke kedai mi kecil di sudut jalan yang tidak ada di buku panduan mana pun. Ingatlah teman-teman, memori terbaik dalam hidup biasanya lahir dari kejutan dan ketidaksengajaan, bukan dari skrip video viral berdurasi lima belas detik. Mari kita peluk kembali hak kita untuk benar-benar menikmati sebuah perjalanan, hanya untuk diri kita sendiri.